Melihat ‘Bung Karno’ Dari Rumah Pengasingannya di Bengkulu

Kata Bung Karno, Tuhan Bersemayam di Gubug si Miskin (ist)
Kata Bung Karno, Tuhan Bersemayam di Gubug si Miskin (ist)

daulat.co – Selepas menutup Puncak Acara Bulan Bhakti Pancasila di Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Kota Bengkulu, Sabtu (30/06), Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Hadi Prabowo berkunjung ke rumah pengasingan Bung Karno.

Kondisi rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu ini cukup terawat. Barang-barang yang dulu dipakai Bung Karno disimpan dengan baik. Di halaman rumah terbentang halaman yang hijau dengan rerumputan.

Rumah pengasingan Bung Karno telah ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya. Pada hari libur, rumah pengasingan banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik. Saat puncak acara hari bakti Pancasila, tampak beberapa wisatawan mancanegara datang berkunjung.

Setelah melihat-lihat suasana rumah pengasingan Bung Karno, Hadi ditemani dengan Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, menyaksikan pemutaran film pendek, “Ketika Bung di Ende” yang diputar di gedung di sebelah rumah pengasingan Bung Karno.

Pemutaran film Ketika Bung di Ende merupakan rangkaian dari puncak acara bulan bakti Pancasila. Film Ketika Bung di Ende sendiri mengusahakan sekelumit kisah ketika Bung Karno dan istrinya di buang Belanda ke Ende, sebuah pulau yang ada di Nusa Tenggara Timur. Selesai menonton film, Hadi beranjak keluar gedung.

Di bawah tangga, beberapa wartawan mencegatnya untuk wawancara. Beberapa wartawan menanyakan tentang tujuan digelarnya hari bakti Pancasila dan pemutaran film pendek Bung Karno. Menurut Hadi, acara puncak hari bakti Pancasila, bukan sekedar hari untuk mengingat tentang sejarah Pancasila.

Tapi lebih dari itu. Hari Bhakti Pancasila adalah momentum memperkuat kesadaran, komitmen, serta tekad, bahwa Pancasila harus diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi aparatur negara, lanjut Hadi, tentu mengimplementasikan segala nilai yang terkandung dalam Pancasila di setiap kebijakan politik yang diambil. Pancasila hari jadi ruh. Tidak hanya dalam kebijakan pemerintahan tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena Pancasila adalah obor, sekaligus perekat.

“Ini momentum untuk menguatkan tekad dan merealisasikan semangat yang terkandung dalam Pancasila terserap dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat,” kata Hadi.

Terkait pemutaran film merupakan cara efektif untuk merawat ingatan tentang jejak perjuangan tokoh besar, Bung Karno. Terutama bagi generasi milineal. Film, adalah media yang bisa diterima oleh kalangan mana pun. Khususnya generasi muda. Sehingga, mereka tak melupakan warisan perjuangan dari para pendiri bangsa. Dengan begitu harapannya, generasi muda bisa mencontoh dan meneladani.

“Pancasila yang digali dari akar budaya Bangsa Indonesia yang majemuk mampu bertahan selama 73 tahun. Pancasila sudah menjadi rumah kita yang ber-Bhineka Tunggal Ika, penjaga NKRI dan insya-Allah sampai akhir jaman,” demikian dikutip laman Kemendagri.

(Sumitro)