27 November 2020, 03:37

Mbah Joyo Dimerto Muncang, Mediator Eyang Bahurekso & Pangeran Benowo

NAMANYA Sukardi. Juru kunci tiga tempat pemakaman umum (TPU) di Desa Muncang, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang. Ia masih mengenakan kain sarung saat daulat.co bertandang ke kediamannya di desa setempat, Senin 27 Juli 2020.

Pria paruh baya itu menyambutku ramah. Penuh kesederhanaan. Penuh kekeluargaan. Dikeluarkannya sebatang rokok, lalu perlahan membuka percakapan. Tentu setelah menyalakan rokok dan mengepulkan asap untuk pertama kalinya.

Ia membuka pembicaraan. Sangat berat bahasannya. Eyang Bahurekso dan Eyang Pangeran Benowo. Ya, mengenai Eyang Bahurekso dan Eyang Pangeran Benowo.

Sukardi sebenarnya tidak serta-merta mengarahkan percakapan kesana. Namun lebih karena berkait dengan pekerjaan yang dijalaninya sehari-hari. Menjaga tiga pesarehan di Desa Muncang.

Kata dia, dalam sebulan, ada hari dimana dirinya tidak melakukan bersih-bersih areal pesarehan. Bukan karena malas. Atau ada pekerjaan lain. Melainkan menghormati adanya ‘pertemuan besar’ di Desa Muncang di hari itu. Tiap hari Kamis Wage, tuturnya.

“Eyang Bahurekso dari Pekalongan dan Eyang Pangeran Benowo dari Pemalang melakukan pertemuannya di desa ini, Muncang,” jelas Sukardi.

Siapa Eyang Bahurekso? Siapa Eyang Pangeran Benowo? Diketahui, keduanya merupakan tokoh besar. Eyang Bahurekso (adalah) pemimpin (Bupati) Pekalongan. Dan, Eyang Panheran Benowo (adalah) pemimpin (Bupati) Pemalang.

Sukardi bercerita, dua pemimpin yang berbeda jaman itu kerap melakukan pertemuan di Desa Muncang untuk membahas berbagai masalah kedua wilayah. Dari permasalahan kesejahteraan, keamanan, kedamaian dan berbagai hal yang terkait penduduk Pekalongan dan Pemalang.

Kenapa pertemuan dilakukan di Desa Muncang? Ternyata bukan tanpa alasan. Kata dia, tidak lain karena adanya pengaruh sekaligus pengayom Desa Muncang. Sang Penengah, Mbah Joyo Dimerto.

“Yang jadi mediatornya ya Mbah Joyo Dimerto selaku Kepala Desa Muncang pertama kali,” tuturnya serius.

Lelaki berusia 60 tahun menambahkan, sejak jaman Pangeran Benowo babad Desa Penggarit, Desa Muncang sebenarnya menjadi tempat strategis untuk melakukan pertemuan para tokoh asal dua wilayah. Pemalang dan Pekalongan.

Tradisi itu menurutnya terus dipertahankan sampai sekarang di alam ghaib. Tepatnya setiap Hari Kamis Wage.  daulat.co kemudian diajak menyambangi Makam Mbah Joyo Dimerto.

Di tempat peristirahatan terakhir itu, Mbah Joyo Dimerto yang dikelilingi makam keturunannya. Al Fatihah….

(Kustajianto)

Read Previous

Korupsi PUPR, KPK Tahan Komisaris PT Sharleen Raya Hong Artha

Read Next

Serah Terima Bantuan Publikasi Kurban Bank Syariah Mandiri – LazisMu Jateng