Kutip Ayat Al-Qur’an, Kiai Ma’ruf Ajak Publik Jujur Akui Kinerja Jokowi

Cawapres Kiai Ma'ruf Amin menjawab pertanyaan Koordinator Media TKN Jokowi-Ma'ruf, Monang Sinaga, di kediamannya, Menteng, Sabtu (10/11) malam.

Daulat.co – Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, mengajak semua pihak bisa secara onyektif mengakui kinerja yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi selama ini.

Ia pun menjelaskan tentang ungkapannya bahwa yang tak bisa mengakui kinerja Presiden Jokowi sebagai ‘orang buta’ dan ‘orang budek’. Dikatakan bahwa terminologi itu juga sudah lazim digunakan di Alquran.

Kata Kiai Ma’ruf, pernyataan itu dibuatnya ketika menceritakan betapa jelasnya capaian pemerintahan Jokowi. Secara fisik, semua pembangunan yang dilakukan oleh Jokowi sangat jelas terlihat. Misalnya jalan-jalan baru, infrastruktur seperti bandara baru, yang membuat arus orang dan barang menjadi lebih cepat.

Begitupun di bidang pendidikan, Pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di bidang kesehatan, pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diterima puluhan juta warga.

“Itu sudah jelas bisa dilihat dan didengar. Jadi kalau ada yang menafikan, tak mau melihat kenyataan itu, tak mau mendengar kenyataan itu, kan jadinya seperti orang buta, kayak orang budek, yang tak mau melihat kenyataan, mendengar informasi soal prestasi itu,” beber Kiai Ma’ruf Sabtu (10/11) malam di kediamannya, Menteng.

Kiai Ma’ruf juga membantah ketika disebut marah-marah. Ia juga tidak menuduh siapa pun terkait ungkapan itu.

“Saya tidak marah, dan bukan sedang menuduh siapa-siapa. Saya cuma bilang, kalau ada yang yang menafikan kenyataan, yang tak mendengar dan melihat prestasi, nah sepertinya orang itu yang dalam Alquran disebut ṣummum, bukmun, ‘umyun. Budek, bisu, dan tuli,” jawab Abah Ma’ruf.

Bila ada yang menuduh seorang ulama tak pantas menyatakan demikian, Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa semua yang dia katakan sudah ada di dalam Alquran. Yang dimaksudnya adalah ‘ṣummum, bukmun, ‘umyun’, yang tertera di surat QS al-Baqarah (2):18.

“Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namaijnya bisu, budek, buta,” papar Kiai Ma’ruf.

“Jadi itu bahasa ‘kalau’ ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak menuduh dia kok,” lanjutnya.

“Kecuali kalau saya menuduh, kamu itu (pelakunya), nah baru itu (masalah). Jadi tak ada yang salah dengan kalimat itu,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih jauh, Kiai Ma’ruf juga menjawab ketika ada yang menuduhnya telah menyindir orang yag secara fisik adalah buta maupun budek.

“Tak ada konteks buta (fisik). Saya cuma bilang, yang tak mengakui itu kayak orang buta karena tak mau melihat. Kayak orang budek karena tak mau mendengar. Kayak orang bisu yang tak mau ungkapkan kebenaran. Itu saja sebenarnya. Kalimat itu juga biasa bunyi di Alquran. Lihat saja di Alquran kalau tak percaya,” urai Kiai Ma’ruf.

Sebelumnya, dalam peresmian rumah relawan Barisan Nusantara (Barnus), di Jalan Cempaka Putih Timur, Nomor 8, Jakarta Pusat, Sabtu (10/10), Kiai Ma’ruf menyebut Jokowi telah berhasil membuat daerah makin maju. Sehingga hanya orang yang ‘budek dan buta’ yang tak menyadari prestasi itu.

“Orang yang sehat bisa lihat kelas prestasi yang ditorehkan, kecuali orang budek dan buta yang tak bisa melihat dan mendengar realitas kenyataan,” kata Kiai Ma’ruf.

Pernyataan Kiai Ma’ruf itu lalu langsung diserang oleh Tim Sukses Prabowo-Sandi, yang menuding Ma’ruf telah marah-marah dan menunjukkan dirinya bukanlah ulama besar.

(M Sahlan)