KPK Perlu Memainkan Strategi Jitu Tutup Celah Orang Korupsi

Mantan Ketua KPK, Taufiqurrahman Ruki (kanan) menyerahkan buku sebagai simbolis kepada Ketua DPR, Bambang Soesatyo (kanan) dalam peluncuran buku berjudul
Mantan Ketua KPK, Taufiqurrahman Ruki (kanan) menyerahkan buku sebagai simbolis kepada Ketua DPR, Bambang Soesatyo (kanan) dalam peluncuran buku berjudul "14 Tahun Yang Tercecer di Kamar Gelap" yang digelar di gedung KPK (Foto: Dedy Istanto/daulat.co)

daulat.co – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan bahwa strategi efektif dalam pemberantasan korupsi adalah melaljui pendekatan yang seimbang dan terintegrasi antara pencegahan dan penindakan korupsi. Jika fokus pada strategi penindakan semata itu ibarat membersihkan lantai basah tanpa menutup genteng yang bocor atau sumber yang menjadi penyebab lantai basah dan kotor.

“Sistem dan proses pemerintahan baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif yang bocor dan memberi peluang terjadinya korupsi, haruslah diperbaiki KPK. Sehingga keberhasilan KPK bukan hanya dilihat dari seberapa banyak kasus OTT yang telah dilakukan serta berapa banyak orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka,” kata Bamsoet, sapaannya di Gedung KPK Jakarta kemarin (23/5).

Menurutnya, keberhasilan KPK juga harus dilihat dari berapa besar kerugian negara yang bisa dicegah dan diselamatkan. Ia menuturkan tindak pidana korupsi yang terjadi dari tahun ke tahun dengan berbagai modus dan pelaku menunjukan trend peningkatan.

Walaupun berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang diterbitkan oleh Transparansi Internasional pada 2017 skor IPK Indonesia naik satu poin menjadi 37, tetapi sesungguhnya peringkat Indonesia turun dua tingkat. Yakni menjadi peringkat ke 90 dari 176 negara. Kenaikan skor IPK belum menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemberantasan korupsi.

Dijelaskan sejak reformasi 1998 sampai tahun 2010, IPK masih dibawah 3,0 dan selalu berada di atas posisi 100 dibanding negara lainnya. Di era Presiden Jokowi, tahun 2015 skor IPK kita meningkat menjadi 36 dan menempati posisi 88 dari 168 negara. Naik satu poin di tahun 2016 menjadi 37 dan tetap stagnan hingga 2017.

“Walaupun capaiannya sudah bagus, namun kita tak boleh berpuas diri. KPK harus lebih efektif dan efisien lagi dalam pemberantasan korupsi,” sebut Bamsoet.

Selama 14 tahun, kiprah KPK telah membuat shock terapi dan ketakutan bagi penyelenggara negara untuk melakukan praktik korupsi. Di tahun 2017 KPK telah memecahkan rekor dalam melakukan 19 operasi tangkap tangan (OTT). Meningkat dibanding tahun 2016 dengan 17 OTT. Sedangkan di tahun 2018 ini KPK telah melakukan setidaknya 9 OTT.

Dibandingkan Kepolisian dan Kejaksaaan, KPK mempunyai keistimewaan tertentu karena fungsi penyidikan dan penuntutan dilakukan satu atap. Ada juga kewenangan penyadapan, sehingga KPK bisa gencar melakukan OTT. Namun, OTT ternyata tidak membuat jera ataupun mereduksi praktik korupsi.

“KPK perlu memainkan strategi yang jitu sehingga menutup celah kesempatan orang-orang untuk melakukan korupsi,” ucap Bamsoet.

Ia mengharapkan ke depannya KPK bisa memaksimalkan kerja sama dengan pihak terkait seperti inspektorat jenderal di kementerian/lembaga. Koordinasi dan supervisi juga harus dimaksimalkan oleh KPK terhadap kepolisian dan kejaksaan agar tugas-tugas KPK dapat dilakukan secara seimbang.

Apabila peran dan fungsi KPK efektif, maka seharusnya korupsi menurun dan bukan malah bertambah. KPK ke depan menghadapi tantangan yang besar dalam pemberantasan korupsi. Tidak hanya dari banyaknya kasus yang ditangani dan kompleksitas korupsi yang terjadi, tetapi juga harapan publik yang besar terhadap keberhasilan kinerja KPK.

Ditambahkan bahwa keberadaan KPK masih relevan dan diperlukan untuk memberantas korupsi, sekalipun perdebatan apakah KPK lembaga ad hoc atau bukan.

“Saya juga menangkap harapan publik, kiranya KPK dapat memberikan perhatian terhadap kasus-kasus besar, sehingga asset recovery yang dikembalikan bisa mencapai jumlah yang besar,” demikian Bambang Soesatyo.

(M Abdurrahman)