5 July 2020, 21:55

KPK Jebloskan Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia ke Bui

daulat.co – Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono akhirnya dijebloskan ke jeruji besi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (26/6/2020). Lembaga antikorupsi menahan Taufik di Rutan Gedung KPK Kavling C1 atau Gedung ACLC untuk selama 20 hari pertama.

“Tersangka TAG (Taufik Agustono) akan ditahan selama 20 hari pertama mulai 26 Juni 2020 hingga 15 Juli 2020 di Rutan KPK Kavling C1,” ucap Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Taufik yang menyandang status tersangka sejak Oktober 2019 lalu itu ditahan usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap kerjasama pengerjaan pengangkutan atau sewa kapal untuk distribusi pupuk antara PT HTK dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG).

Penahanan terhadap Taufik mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19. Taufik sebelum mendekam di sel tahanan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari.

“Sebelumnya akan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari sebagai bagian dari protokol kesehatan pencegahan Covid -19,” ujar Lili.

Sebelumnya, Taufik sempat mangkir dari pemeriksaan penyidik pada Selasa (23/6/2020) lalu. Taufik melalui surat yang disampaikan kepada penyidik saat itu berdalih sedang sakit.

KPK sejauh ini telah menetapkan empat orang tersangka dalam perkara ini. Keempatnya yakni, mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso; orang kepercayaan Bowo, Indung; serts Marketing Manager PT HTK, Asty Winastiā€ˇ; serta Taufik Agustono.

Penetapan tersangka Taufik merupakan pengembangan dari kasus suap yang menjerat mantan anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya Indung serta Marketing Manager PT HTK Asty Winasti. Majelis Hakim telah menjatuhkan hukuman 5 tahun pidana penjara dan denda Rp 250 juta subsider 4 bulan kurungan terhadap Bowo Sidik atas perkara suap dan gratifikasi.

Anak buah Bowo, Indung divonis Majelis Hakim dengan hukuman 2 tahun pidana penjara dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan terhadap Indung. Sementara, Asty divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 1,5 tahun pidana penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta.

Perkara dugaan suap ini bermula dari diputusnya kontrak kerja sama antara PT HTK dengan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS) yang merupakan cucu perusahaan PT Petrokimia Gresik pada 2015 setelah berdirinya PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang menjadi perusahaan induk BUMN pupuk.

Dalam surat tuntutan terhadap mantan anggota Komisi VI DPR, Bowo Sidik Pangarso, setelah pemutusan kontrak antara PT HTK dan PT KCS, terjadi pertemuan di kawasan Kebon Sirih pada Jakarta pada 31 Oktober 2017 lalu.

Direktur Utama (Dirut) Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi dan Steven Wang selaku pemilik PT Tiga Macan saat itu memperkenalkan Asty kepada Bowo Sidik. Asty pun menceritakan kepada Bowo mengenai kontrak PT HTK dan PT KCS yang diputus setelah berdirinya PT PIHC.

Kemudian pengangkutan amoniak dialihkan ke anak usaha PT PIHC, yakni PT PILOG. Asty dalam pertemuan itu meminta Bowo mengupayakan agar PT PILOG dapat menggunakan kapal milik PT HTK untuk pengangkutan amoniak. Sementara kapal milik PT PILOG akan dicarikan pasarnya oleh Asty.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Terima SK Rekomendasi PAN, Agus Sukoco Tekankan Pentingnya Holopis Kuntul Baris di Pilkada Pemalang

Read Next

Mangkir Pemeriksaan, KPK Ultimatum Bos Bank Yudha Bakti dan GZCO