9 August 2020, 15:55

Korupsi Jiwasraya, Orang Dekat Beberkan Transaksi Judi Bos TRAM Heru Hidayat

daulat.co – Direktur PT Tandikek Asri Lestari dan Komisaris PT Pool Advista Asset Freddy Gunawan tak membantah jika terdakwa sekaligus Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat pernah mengirimkan sejumlah uang melalui transfer antar bank kepadanya. Transfer uang itu selanjutnya digunakan untuk sejumlah transaksi perjudian kasino di beberapa tempat.

Demikian terungkap saat Freddy Gunawan bersaksi dalam sidang lanjutan dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan TPPU dengan terdakwa Heru Hidayat, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/7/2020). Freddy Gunawan merupakan trader saham sekaligus orang dekat terdakwa yakni Heru Hidayat.

Dalam persidangan terungkap transaksi itu terjadi dalam rentang waktu tahun 2013 hingga tahun 2017. Adapun perjudian kasino berlokasi di  Singapura, Australia, New Zealand atau Selandia baru, hingga Makau. Nilai transaksi ke meja judi mencapai Rp 40 miliar lebih.

“Apakah saudara Heru Hidayat pernah melakukan transfer uang ke rekening saudara?,” cecar salah satu Jaksa Penuntut Umum pada Kejagung kepada Freddy.

“Pernah,” jawab Freddy.

“Transfer dibayarkan ke siapa?,” ucap Jaksa kembali bertanya.

“Transfer tersebut, dibayarkan kepada kasino di Singapura, kasino di New Zeland (Selandia Baru), di Australia,” ujar Freddy.

“Tanggal 6 September 2016 sebesar Rp 2.200.000.000 untuk bayar kasino MGM di Macau?,” tanya Jaksa.

“Betul Pak,” jawab Freddy.
Jaksa pun membacakan pengakuan saksi yang terangkum dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Dalam persidangan, jaksa membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Freddy. Diungkapkan Jaksa, transfer Rp 2,5 miliar oleh Heru Hidayat untuk membayar kasino MGM di Makau pada 23 November 2011.

Senilai Rp 2,2 miliar untuk membayar kasino MGM di Makau pada 6 September 2016, Rp 1,470 miliar untuk kasino Resort World Sentosa (RWS) di Singapura pada 9 Agusutus 2016, Rp 1,5 miliar untuk biaya kasino Sky City di New Zeland pada 8 Juni 2016.

Selain itu, Rp 3,5 miliar untuk biaya kasino Sky City pada 7 Juni 2016, Rp 500 juta untuk kasino RWS pada 16 Mei 2016, Rp 500 juta untuk kasino RWS pada 17 Maret 2016, Rp 500 juta untuk kasino Marina Bay Sand (MBS) pada 29 April 2016, dan Rp 1 miliar untuk bayar kasino MBS dan RWS pada 22 Januari 2016.

Kemudian, transfer Rp 500 juta untuk kasino RWS pada 23 Desember 2015, Rp 900 juta untuk kasino RWS pada 14 Desember 2015, Rp 912 juta untuk kasino MBS pada 24 Maret 2015, dan Rp 690 juta untuk kasino MBS pada 18 Juni 2015. Pada 19 Juli 2013 terjadi transaksi senilai Rp 11,07 miliar dan Rp 10,04 miliar untuk bayar utang kasino di Makau.

Menurut Jaksa, rangkaian transfer tersebut masuk ke dalam rekening giro Freddy Gunawan. Namun pada rekening lainnya, pada 9 Juni 2017 juga ada transfer senilai Rp 4,87 miliar dari Heru Hidayat untuk bayar kasino RWS.

Freddy juga menerima transfer Rp 4 miliar untuk pembuatan kapal Phinisi di Bira, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Rp 2,5 miliar untuk keperluan renovasi bangunan empat lantai di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (Jakut).

Freddy tak membantah BAP tersebut. Dikatakan Freddy, uang transfer Heru Hidayat untuk bayar kasino itu dalam bentuk mata uang asing. Dari setiap pembayaran ke kasino tersebut, kata Freddy, dirinya mendapatkan uang tips sebesar 0,1 persen.

“Bayar ke kasino dalam bentuk dollar. Uang Pak Heru masuk saya ke money changer di Kota, Jakarta. Nanti money changer yang bayar ke sana,” tutur Freddy.

Dalam persidangan, Freddy mengaku mengenal Heru sejak 15 tahun lalu. Dari perkenalan tersebut, Heru mendampuk Freddy menjadi Komisaris PT Pool Advista Asset Management dan Direktur PT Tandikek Asri Lestari. Dua perusahaan itu merupakan milik Heru Hidayat.

Heru diketahui memiliki lebih dari 10 perusahaan, termasuk sejumlah manajer investasi (MI) yang mengatur pengelolaan dana investasi Jiwasraya. Adapun PT Pool Advista merupakan salah satu dari 13 perusahaan manajer investasi (MI) yang ditetapkan sebagai tersangka korporasi dalam kasus Jiwasraraya.

Jaksa meyakini, modus pencucian uang puluhan miliar untuk judi kasino itu hasil ‘merampok’ keuangan Jiwasraya. Sementara BPK menyatakan kerugian keuangan negara terkait pembobolan Jiwasraya mencapai Rp 16,81 triliun.

Selain Heru Hidayat, perkara ini juga menyeret Dirut PT Hanson International Tbk/MYRX, Benny Tjokrosaputro; Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto; Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018, Hendrisman Rahim; Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018, Hary Prasetyo; dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya, Syahmirwan ke kursi pesakitan.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

ADPPI: Tak Boleh Ada Cost Recovery dalam Pengusahaan Panas Bumi untuk PLTP

Read Next

Himmatul Aliyah Desak Kemendikbud Benahi Infrastruktur Pendukung PJJ