24 September 2020, 05:04

Kisah Mbah Carido Babad Alas Untuk Gebangkerep Sragi

MASYARAKAT Desa Gebangkerep, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, sebagian besar tahu siapa Mbah Carido. Namun karena minimnya literasi mengenai Mbah Carido, masyarakat tidak mengetahui bagaimana kisah maupun sosoknya dalam memperjuangkan berdirinya Desa Gebangkerep.

Ada tiga tokoh sebenarnya. Namun dua tokoh lainnya jarang diketahui masyarakat. Keduanya adalah Mbah Wali Jogowono dan Pangeran Lancur. Keduanya lamat-lamat diketahui masyarakat dan tetap menjadi misteri hingga sekarang.

Demikian dituturkan Mbah Jariah, juru kunci Pesarehan Mbah Carido saat ditemui daulat.co dirumahnya, Dukuh Santri Urip, Desa Gebangkerep, Senin 3 Agustus 2020.

“Hanya Mbah Carido yang ‘bersedia’ diungkap secara umum perjuanganya dalam mendirikan Desa Gebangkerep Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan,” kata dia.

Diungkapkan Mbah Jariah, Mbah Carido sebenarnya bukan orang asli Gebanngkerep. Ia justru datang dari desa lain, namun dalam perjalanan hidupnya menempatkannya di Gebangkerep. Saat itu, Gebangkerep merupakan daerah hutan yang jarang dihuni penduduk.

“Mbah Carido itu berasal dari Desa Kesesi, datang ke sini masih keadaan hutan lalu mulailah menebangi pohon, membangun desa,” ujarnya.

Saat ‘babat alas’, warga yang mendapati Mbah Carido mulai mendekat satu-persatu dan membantu melakukan penebangan pohon untuk dijadikan tempat tinggal. Warga secara sukarela bergotong-royong membantu Mbah Carido.

Orang-orang itu tidak tahu bahwa Mbah Carido adalah satu diantara sekian prajurit keraton yang menyamar. Mbah Carido sedang memilih untuk babad (mendirikan) desa, daripada kembali ke Kraton Surakarta Hadiningkrat setelah kalah perang melawan VOC di Batavia.

Jalan terbaik adalah membangun desa dengan berpencar, menebang hutan yang dilalui sepanjang jalan dari Kraton Surakarta sampai ke Batavia. Memilih hutan yang termasuk wilayah Pemalang dan Pekalongan.

Diantara orang-orang desa yang membantu menebangi hutan itu, ada Pangeran Lancur (prajurit Kraton Surakarta) dan yang masih bujang namanya Jogowono.

Pada akhirnya didirikan rumah-rumah secara bergerombol agar mudah berkomunikasi dan tolong-menolong. Karena dekatnya satu rumah dengan rumah lainnya itukah maka dinamakan Desa Gebangkerep. Gebang sendiri artinya tempat, sementara kerep berarti bergerombol.

Di atas lahan yang dibabad itu juga didirikan langgar atau mushala berbentuk panggung untuk dijadikan tempat shalat dan belajar syariat Agama Islam. Demikian disampaikan Mbah Jariah, pria yang kini berusia 80 tahun kepada daulat.co

(Kustajianto)

Read Previous

Cederai Pemilu, Eks Komisioner KPU Dituntut 8 Tahun Bui

Read Next

Masyarakat Semakin Takut, Pemerintah Harus Selamatkan Pasar Rakyat