24 September 2020, 05:57

Kata Kiai Nur Fuad Soal Arah Dukungan NU di Pilkada Pemalang 2020

Ketua BAMUSI Pemalang Kiai Nur Fuad (Foto: sumitro/daulat.co)

daulat.co – Kerjasama antara umaro (pemerintah) dengan ulama merupakan perpaduan yang saling membutuhkan. Tidak bisa sepihak dan atau meremehkan umaro dan menafikkan ulama. Begitu sebaliknya, mengesampingkan ulama dan mengedepankan umaro.

Demikian ditekankan Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Pemalang, KH Nur Fuad, disela-sela Silaturahmi Kiai Kampung dengan pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati, Agus Sukoco – Eko Priyono, di Kantor DPC PDI Perjuangan, Jl Jend Sudirman Timur, Pemalang, Minggu 13 September 2020.

“Kerjasama atau sinkronisasi ulama dan pemerintah itu sangat tepat. Siapa yang meremehkan umara akan rugi dunianya, dan siapa yang meremehkan ulama akan rugi akhiratnya. Disinilah pentingnya keselarasan untuk membangun masyarakat yang lebih bermartabat,” kata Nur Fuad.

Silaturahmi Kiai Kampung dihadiri langsung oleh pasangan balon Agus – Eko, Ketua Tim Pemenangan Wasisto, Ketua Bamusi Pemalang Kiai Fuad Amin dan Pimpinan DPC  Bagong Yoyok Sukirman. Kiai Kampung yang menjadi peserta silaturahmi berasal dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pemalang.

Mengenai kepentingan semua calon dengan warga Nahdlatul Ulama jelang Pilkada Pemalang Tahun 2020, Kiai Fuad menyatakan bahwa hal itu merupakan hal yang wajar terjadi. Dalam Pilkada Pemalang, diketahui ada tiga pasangan calon yakni pasangan Agus Sukoco – Eko Priyono, Iskandar Ali Syahbana – Akhmad Agus Wardana dan pasangan Mukti Agung Wibowo – Mansur Hidayat.

Namun, kata Kiai Fuad, dari ketiga pasangan balon meski semuanya dekat dengan NU, Agus Sukoco – Eko Priyono dinilai lebih meyakinkan dibandingkan calon lain. Agus – Eko disebutnya lebih memperhatikan kepentingan NU, hal itu tergambar dari visi – misinya yang akan berpihak pada NU jika terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Pemalang.

“Kalau masalah isu itu biasa, yang jelas bahwasannya Pak Agus itu nasionalis, tapi juga biasa ziarah. Kita jalan terus dan tegak lurus, isu semacam itu tidak akan saya tepis, biarkan saja. anjing menggonggong kafilah berlalu,” ucap Kiai Fuad.

Ke depan, usai Silaturahmi Kiai Kampung, pihaknya akan saling menguatkan jamaah sesuai dengan Khittah 1926. Bahwasannya, Nahdlatul Ulama secara organisasi tidak berpolitik praktis. Namun, NU akan tetap berpolitik, yakni berpolitik kebangsaan.

“NU itu seperti pelangi, NU tidak berpolitik praktis tapi berpolitik kebangsaan. Harap dicatat, bahwa NU tidak akan kemana-mana (dalam Pilkada) tapi NU ada dimana-mana,” pungkas kiai berambut panjang itu menutup pembicaraan mengenai suara warga NU dalam Pilkada Pemalang Tahun 2020.

(Sumitro)

Read Previous

Gelar Silaturahmi, Kiai Kampung Sambut Baik Visi dan Misi Agus – Eko Perda-kan Kepentingan Warga Nahdliyin

Read Next

Menteri Basuki Ajak Negara G20 Perkuat Pengelolaan SDA dan Pertanian