2 March 2021, 02:43

Jadi Tersangka, Komisioner KPU Terima Suap Rp 900 juta Terkait PAW Politikus PDIP

daulat.co – Komisioner KPU Wahyu Setiawan (WSE) akhirnya ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka. Wahyu dijerat atas dugaan suap terkait dengan penetapan anggota DPR-RI Terpilih 2019-2024 asal PDIP.

Penetapan tersangka ini merupakan hasil gelar perkara pasca Oprasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Satgas KPK di Jakarta, Depok, dan Banyumas pada Rabu dan Kamis, 8-9 Januari 2020.

Selain Wahyu, KPK juga menetapkan tiga tersangka lain. Yakni, mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF); caleg selaligus kader PDIP Harun Masiku (HAR); dan pihak swasta bernama Saeful (SAE).

“Setelah melakukan pemeriksaan dan sebelum batas waktu 24 jam sebagaimana diatur dalam KUHAP, dilanjutkan dengan gelar perkara, KPK menyimpulkan adanya dugaan Tindak Pidana Korupsi menerima hadiah atau terkait penetapan anggota DPR-RI Terpilih tahun 2019-2024,” ucap Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli Siregar dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (9/1/2020) malam.

Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total sekitar Rp 900 juta diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019.

“Untuk membantu penetapan HAR (Harun Masiku) sebagai anggota DPR-RI pengganti antar waktu, WSE (Wahyu Setiawan) meminta dana operasional Rp 900 juta,” ungkap Lili.

Wahyu dan Agustiani Tio Fridelina yang diduga menerima suap dijerat dengan Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Harun Masiku dan Saeful yang diduga pihak pemberi suap disangkakan melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun empat orang lain yang diamankan dan hanya berstatus saksi yakni advokat Doni; asisten Wahyu, Rahmat Tonidaya; keluarga Wahyu, Ika Indayani; dan Wahyu Budiyani. Dalam OTT ini, Tim Satgas juga mengamankan barang bukti berupa uang Rp 400 juta dalam bentuk Dollar Singapura dan buku rekening.

“Pada Rabu, 8 Januari 2020, WSE, Komisioner KPU meminta sebagian uangnya yang dikelola oleh ATF (setelah hal ini terjadi, tim KPK melakukan OTT). Tim menemukan dan mengamankan barang bukti uang Rp 400 juta yang berada di tangan ATF dalam bentuk Dollar Singapura,” ujar Lili.

OTT ini berawal dari informasi masyarakat. KPK kemudian mengamankan Wahyu Setiawan dan Rahmat di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 12.55
WIB.

“Kemudian secara paralel, tim terpisah KPK mengamankan ATF di rumah pribadinya di Depok pada pukul 13.14 WIB. Dari ATF, tim mengamankan uang setara dengan sekitar
Rp 400 juta dalam bentuk mata uang SGD dan buku rekening yang diduga terkait perkara,” terang Lili.

Tim lain, sambung Lili, mengamankan Saeful, Doni, dan Ilham di sebuah restoran di Jalan Sabang, Jakarta Pusat
pukul 13.26 WIB. Terakhir, kata Lili, KPK mengamankan IDA dan Wahyu Budiyani di rumah pribadinya di Banyumas.

“Delapan orang tersebut dibawa ke Gedung Merah Putih KPK untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” tandas Lili.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Temui Menag, PP Perti Sampaikan Fatwa Taat Pimpinan

Read Next

Kemenag: BOS Madrasah Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan