Hasto: Tuding Ekonomi Kebodohan Cermin Ketiadaan Narasi Kampanye Prabowo

Sektretaris TKN Jokowi-Kiai Ma'ruf Amin Hasto Kristiyanto (Kiri) bersama Koordinator Media TKN Jokowi - Ma'ruf Monang Sinaga (Kanan) saat memberikan keterangan pers di Rumah Cemara 19, Menteng, Jakarta.

Daulat.co – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin Hasto Kristiyanto menegaskan, statemen Prabowo Subianto bahwa kebijakan ekonomi Jokowi melebihi neo-liberal akan menjadi bumerang, karena rakyat akan melancarkan serangan balik buat Tim Prabowo-Sandi.

“Saya memastikan bahwa serangan Pak Prabowo ke Pak Jokowi tersebut akan menimbulkan serangan balik dari rakyat. Sebab pernyataan Pak Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” ujar Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima daulat.co, Jumat (12/10/2018).

Hasto menjelaskan, tudingan Prabowo bahwa ekonomi Jokowi adalah ekonomi kebodohan dan melebihi neo liberal adalah sebuah klaim sepihak tanpa dasar.

Hasto pun mengingatkan kembali catatan sejarah, bahwa reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter di mana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto.

“Pak Prabowo seharusnya paham hal ini. Saat itu, ekonomi kekuasaan ditopang oleh sistem otoriter. Dalam sistem itu mereka yang kritis dipenjara, bahkan diculik dan terkadang dimusnahkan. Ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui Letter of Intent IMF, dan Pak Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya tidak bisa cuci tangan,” jelas Hasto.

Hasto menegaskan bahwa TKN Jokowi-Kiai Ma’ruf siap berdebat sekiranya yang disampaikan adalah konsepsi ekonomi Indonesia sesuai konstitusi yang selama ini terus diperjuangkan oleh Pak Jokowi.

“Pak Prabowo harus paham bahwa dampak 32 tahun Ekonomi Kekuasaan juga membawa “keuntungan” bagi total kekayaannya saat ini,” tegasnya.

Hasto sangat tidak rela sistem ekonomi saat ini disebut ekonomi kebodohan dan pada saat yang sama beretorika tentang “Make Indonesia Great Again”.

Serangan ekonomi kebodohan Pak Prabowo, lanjut Hasto, semakin menunjukkan bahwa Beliau pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi.

“Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau mark-up wajah. Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri. Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya, bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh-bodohkan ekonomi bangsanya,” lanjut Hasto.

Dijelaskan pula bahwa tindakan membangun infrastruktur secara masif, jaminan sistem kesehatan nasional, sertifikasi tanah rakyat, program kerakyatan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar; pengambilalihan Freeport, Blok Rokan dan Blok Mahakam serta berbagai prestasi lainnya, bukanlah kebodohan.

“Bagi kami, banteng-banteng PDI Perjuangan, konsepsi ekonomi Pak Jokowi justru mencerdaskan bangsa. Hanya orang-orang yang tertutup mata hatinya yang melihat segala sesuatu dari perspektif negatif,” tutup Hasto.

(M Sahlan)