Haedar Nashir Berharap Sekolah Perkaderan Muallimin Jadi Pilar Kemajuan Bangsa

http://daulat.co/wp-content/uploads/2018/12/Haedar-Nashir.jpeg

daulat.co – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap keberadaan sekolah perkaderan, Madrasah Muallimin dan Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta yang didirikan langsung oleh para generasi awal Muhammadiyah bisa menjadi pilar bagi kemajuan bangsa.

“Dari rahim Muallimin dan Muallimat telah lahir kader bangsa yang berdiaspora,” kata Haedar Nashir dalam sambutan peringatan Milad 1 Abad Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (6/10).

Oleh karenanya, Haedar Nashir menilai peranan besar lulusan Muallimin dan Muallimat itu harus ikut membantu pembangunan negara, maka hasilnya akan kembali untuk negara. Para santri Mu’allimin dan Mu’alimaat memang dipersiapkan untuk masa depan bangsa.

Haedar Nashir juga berharap kepada para santri Mu’allimin dan Mu’alimaat agar mampu menjadikan momentum milad untuk melakukan akselerasi pengembangan kualitas diri menjadi jauh lebih baik. Karena kader Muhammadiyah harus memiliki karakter yang khas.

“Jadikan momentum 1 abad ini menjadi tonggak sejarah untuk melakukan transformasi kualitas. Sehingga dari kampus ini lahir kader-kader bangsa, kader-kader kemanusiaan universal, kader umat, dan kader persyarikatan yang berakhlaq al-karimah,” ucap Haedar Nashir.

 “Kata sejalan tindakan. Ilmunya mencerahkan hati dan pikirannya. Bukan sekadar agama ritual dan aksesori luar, tetapi agama yang membentuk peradaban diri, yang sekarang kering di republik ini. Sekaligus juga generasi yang cerdas dan berkemajuan,” imbuh Haedar Nashir.

Dalam suasana seperti saat ini, Haedar Nashir menilai bahwa bangsa Indonesia membutuhkan kader-kader yang berkarakter unggul tersebut. Selain itu, Haedar Nashir juga memberi pesan khusus bagi Madrasah Muallimat yang merupakan sekolah kader perempuan Muhammadiyah

“Indonesia dan mayoritas Muslim di negeri ini dalam memasuki abad baru, meniscayakan hadirnya sumber daya manusia yang cerdas, berilmu, dan berkemajuan. Dan dari rahim dua madrasah inilah, abad baru itu bisa kita raih,” jelas Haedar Nashir.

“Untuk Muallimat, sebagaimana dahulu para perempuan Aisyiyah mampu merintis gerakan perempuan pertama di republik ini yang telah melahirkan kongres perempuan pertama tahun 1928, maka dari rahim Muallimat juga harus lahir perempuan-perempuan, Aisyiyah-Aisyiyah baru yang menjadi pelopor peradaban di republik tercinta ini,” pungkas Haedar Nashir.

 

(M Nurrohman)