Fokus Kerja Presiden Jokowi di Tahun Keempat

Hadi Prabowo (dok Dagri)
Hadi Prabowo (dok Dagri)

daulat.co – Tahun 2018 merupakan tahun keempat pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dimana pada tahun ini program pemerintah akan difokuskan pada penguatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang pondasinya sudah mulai dibangun sejak awal pemerintahan.

Fokus program pembangunan Kabinet Kerja di tahun keempat adalah kelanjutan dari fokus tahun pertama saat Pemerintah meletakkan fondasi pembangunan nasional yang kokoh melalui transformasi fundamental perekonomian dan meletakkan kembali paradigma Indonesia Sentris.

“Di tahun pertama, tiga kebijakan fundamental yang dilakukan adalah dengan mengubah ekonomi berbasis konsumsi ke produksi, subsidi tepat sasaran untuk pengentasan kemiskinan dan mendorong pembangunan pembangunan yang merata di luar Pulau Jawa,” terang Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hadi Prabowo mewakili Mendagri Tjahjo Kumolo dalam sambutan Rakernas IKA Undip di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, baru-baru ini.

Di tahun kedua, kebijakan fondasi dilanjutkan dengan kebijakan percepatan pembangunan dengan memanfaatkan momentum pertumbuhan yang lahir dari dampak penerapan kebijakan fundamental. Tiga pilar percepatan dilakukan melalui percepatan infrastruktur, percepatan pembangunan manusia dan percepatan kebijakan deregulasi ekonomi guna mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Di tahun ketiga, pemerataan pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi fokus kebijakan pemerintahan. Kebijakan ini utamanya mencakup, pertama redistribusi aset melalui pemberian hak pengelolaan tanah terlantar kepada masyarakat sehingga dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lebih produktif serta legalisasi tanah melalui percepatan sertifikasi tanah-tanah milik rakyat.

“Kedua, penguatan akses untuk mendapatkan modal melalui Kredit Usaha Rakyat yang menjangkau semakin banyak masyarakat, semakin besar jumlahnya dan semakin mudah cara mendapatkannya,” jelas Hadi Prabowo.

Selanjutnya, ketiga meningkatkan ketrampilan masyarakat melalui program pendidikan kejuruan serta pendidikan dan pelatihan vokasi secara massif.

Dalam tiga tahun terakhir, atas kerja bersama seluruh komponen bangsa, Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 11,22 persen di bulan Maret 2015 menjadi 10,12 persen pada September 2017. Kemudian ketimpangan pendapatan dari 0,408 di bulan Maret 2015 menjadi 0,391 di bulan September 2017 dan tingkat pengangguran dari 5,81 persen di bulan Februari 2015 menjadi 5,13 di bulan Februari 2018.

Ditambahkan Hadi, di tengah melambatnya pertumbuhan perekonomian global, ekonomi Indonesia tumbuh 5,08 persen pada Triwulan I 2018, terbaik diantara kelompok negara MINT masing-masing Meksiko, Indonesia, Nigeria dan Turki, yang disebut-sebut akan menjadi raksasa baru ekonomi dunia. Bahkan berada diatas negara yang lebih mapan secara ekonomi seperti Korea Selatan sebesar 2,7 persen dan Rusia sebesar 2,5 persen.

“Industri Manufaktur Indonesia juga mengalami peningkatan yang signifikan dan berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto sebesar 20,26 persen pada Triwulan Kedua 2017. Angka ini membuat Indonesia menduduki peringkat keempat negara dengan kontribusi industri tertinggi setelah Korea Selatan dengan sumbangan 29 persen, Tiongkok 27 persen dan Jerman 23 persen,” urainya.

Ditekankan Hadi bahwa capaian yang dihasilkan bersama tersebut memberikan gambaran bahwa Indonesia memiliki modal dan kemampuan untuk menjadi bangsa yang kuat secara ekonomi. Hal ini menjadi dorongan bersama dalam mewujudkan Indonesia yang Trisakti, yang berdaulat dalam bidang politik, berdikarti secara ekonomi dan memiliki kepribadian sosial dan budaya.

“Capaian ini juga menjadi dasar kita bersama menuju Era Ekonomi Emas Indonesia 2045 yang dilaksanakan melalui pembangunan ekonomi yang dimaknai sebagai sebuah upaya berkelanjutan yang harus teris-menerus ditingkatkan demi terciptanya kemajuan pada berbagai bidang, khususnya terkait aspek kesejahteraan rakyat,” kata dia.

(M Abdurrahman)