Fahri Hamzah: Aku Berdoa Agar Tuhan Membuat Perhitungan Dengan Kalian

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah

daulat.co – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai sejumlah pelaku teror ataupun yang tertangkap merupakan orang sakit jiwa yang rela menjual nyawa keluarga dan bangsa sendiri demi melayani nafsu para penggiat perang yang mendapatkan keuntungan rupiah dan dolar dari tumpahnya darah.

“Orang yang lebih gilanya itu ada di pucuk pimpinan mereka, yang memerintahkan perang, dan menyiapkan regulasi bagi peperangan. Ada juga yang menjadi robot yang menyiapkan diri untuk kematian yang konyol. Siapa yang salah? Yang penting kita jangan jadi korban!,” tegas dia dalam pesan singkat kepada wartawan, Rabu (16/5).

Fahri mencontohkan robot lain yang dimaksud, dimana suatu hari mantan Presiden Amerika Serikat George Bush Jr menyerang Irak dan membunuh Saddam Husen. Berikut membuat perang sipil serta pengungsian yang mengorbankan jutaan jiwa dengan alasan fiktif “weapon of Mass destruction” dan “crusade” (senjata pemusnah massal dan perang salib).

Ia mempertanyakan apakah fiksi George Bush JR soal “weapon of Mass destruction” dan “crusade” itu sudah dihentikan, dan apakah nyawa jutaan manusia akibat fiksi perang kaum ultra kanan bisa dilupakan dan sudah terbayar? Apakah rakyat Indonesia bisa menghentikan khayalan orang sakit jiwa alias gila?

“Indonesia, adalah bangsa yang memandatkan diri untuk “ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial” ini. Maka dari itu, Indonesia bukan tempat para orang sakit jiwa atau orang-orang gagal yang ingin selalu mencari alasan mencipta kehancuran, tapi membangun pencitraan. Indonesia akan melawan sakit jiwa kalian,” kata Fahri.

Menurutnya, pikiran ini adalah pikiran para pendiri bangsa. Karena itu jika ada yang tidak paham, maka memang lah bukan dia yang layak di depan. Indonesia ini raya, tempat benih kebaikan agama dan negara dipersatukan, tempat timur dan barat bercumbu menemukan cintanya yang sejati. Khalifah Bumi.

“Minggirlah yang tak sanggup. Amanah ini berat. Biarkan yang lain yang punya pikiran dan yang sanggup memikul beban. Ada yang ingin mengalihkan perhatian. Kegagalan negara ingin dikompensasi dengan perang. Akal sehat kita berkata tidak!,” tegasnya.

Ditambahkan Indonesia bukan saja tidak boleh jadi korban tetapi harus menjadi penemu jalan baru bagi perdamaian dan dunia yang aman dan hakiki. Maka rakyat Indonesia tidak boleh ikutan, apalagi mengikuti jejak kebodohan dan kekalahan.

“Kita punya jalan sendiri. Bismillah, ini harapan menjelang Ramadhan. Tapi jika kalian tetap ingin menulis dalam aturan bahwa agama dan simbolnya adalah perkakas perang, maka aku akan melawan. Aku berdoa agar Tuhan membuat perhitungan dengan kalian. Semoga Ramadhan mendatangkan kesadaran,” tutupnya.

(M Abdurrahman)