5 August 2020, 21:12

Efek Teori Konspirasi Covid-19

PANDEMI Covid-19 sejak Desember 2019 menyerang China telah menewaskan lebih dari 160.000 orang di seluruh dunia, dan akan berpotensi membentuk kembali geo ekonomi politik global dan bahkan sampai kultur masyarakatnya.

Hal ini diperkuat dengan dorongan munculnya berbagai teori konspirasi untuk sekaligus melegalkan dan untuk existensi agenda-agenda tersembunyi dari kelompok-kelompok politik ekonomi lewat penunggangan teori konspirasi yang dipercaya publik.

Bagi mereka, teori konspirasi adalah kesempatan untuk membuat kekacauan agar memunculkan negosiasi-negosiasi ekonomi politik baru di masa depan demi existensi.

Misalnya, akhir-akhir ini sering kita dengar satu negara akan menyerang negara lain dengan dalih sesuai teori konspirasi yang nota bene enggak jelas kebenarannya alias memakai teori konspirasi yang berkembang untuk mempengaruhi opini dan kepercayaan publik demi legitimasi kebijakan atau perbuatannya dalam membuat kekacauan.

Kasus perang AS -Irak yang konon untuk pelucutan senjata kimia, dan penyerangan afghanistan untuk memburu dalang peristiwia peledakan Gedung WTC 11 september 2001 adalah cerita sempurna bagaimana teori konspirasi berkembang dan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan kekacauan selanjutnya.

Teori konspirasi faktanya ada dan memunculkan pandemi baru dikalangan publik yang berpotensi memunculkan efek bahaya baru. Misal teori konspirasi yang mengklaim bahwa peta hot spot 5G cocok dengan wabah Covid-19 karena dapat memunculkan gangguan oksigen atmosfer yang kemudian agendanya akan mengubah manusia menjadi cyborg.

Bahkan beberapa strain menggabungkan semua hal di atas dengan co-founder Microsoft, Bill Gates untuk mengurangi populasi dan mengawasi planet ini menggunakan chips, vaksin, 5G, dan virus corona.

Kemudian ada juga teori konspirasi yang menyebut bahwa pandemi Covid-19 adalah hoax yang sengaja diciptakan untuk membuat ketakutan dan kepanikan demi tujuan-tujuan tertentu. panic buying pun terjadi misal penimbunan kebutuhan pokok, masker, hand sanitizer, tisu dan sebagainya sehingga sampai menghilang dipasaran dan harga menjadi tak terkendali.

Beberapa kelompok keagamaan tertentu bahkan meyakini teori konspirasi yang mengatakan Covid-19 dibuat oleh sekelompok Yahudi, freemason atau illuminati demi mewujudkan ambisinya menciptakan tatanan dunia baru, atau negara-negara besar yang bersaing secara ekonomi politik hari ini saling tuduh soal kemunculan Covid-19.

Misalnya, Covid-19 dianggap bikinan China di laboratoriun Wuhan yang bocor, atau disisi lain sebaran Covid-19 adalah ciptaan Amerika Serikat yang disebarkan oleh tentaranya ketika mengikuti olimpiade di China. Dan teori-teori konspirasi lainnya.

Dalam periode pandemi Covid-19 yang penuh ketidakpastian dan ancaman krisis kesehatan, krisis ekonomi, krisis pangan dan krisis sosial. Teori konspirasi sangat mudah berkembang dan dipercaya banyak orang, walaupun orang-orang tersebut tidak tau apakah teori konspirasi itu benar atau salah.

Tapi, bagi kebanyakan orang mereka terdorong untuk mencari informasi selama pandemi Covid-19 terjadi demi untuk kepuasan dan existensi diri bahkan turut serta menjadi bagian yang turut menyebar luaskannya lewat media digital yang sederhana dan cepat.

Yang perlu dicatat, teori konspirasi bukan hanya terjadi pada kasus pandemi kali ini saja. Teori konspirasi telah berubah menjadi budaya turun temurun dalam sejarah berabad-abad lamanya, misalnya ketika wabah Bubonik tahun 1500an, orang Yahudi dipersalahkan dan dijauhi, selama flu Spanyol 1918, orang-orang Jerman dipermasalahkan.

Wabah SARS 2003 dianggap buatan laboratorium sebagai senjata biologis, pandemi Zika 2015 rekayasa biologis oleh perusahaan Monsanto. Bahkan saat ini hasil penelitian bahwa orang percaya Covid-19 sengaja dibuat disebuah laboratorium tertentu.

Teori Konspirasi Memunculkan Masalah Baru

Teori konspirasi berkembang dengan pesat dan dipercaya banyak orang karena lebih mampu menjelaskan dan memuaskan hal-hal yang rumit menjadi sederhana daripada soal ilmu pandemi dan virologi itu sendiri.

Belum lagi peran negara yang kurang dipercaya dan dianggap justru semakin mempersulit masyarakat dengan banyaknya aturan-aturan pencegahan pandemi ditengah kesulitan dan ancaman akibat pademi beserta effect sosial ekonominya.

Disinilah titik kekacauan pencegahan pandemi itu mulai terjadi, misal dalam pandemi Covid-19, orang tidak patuh pakai masker, tidak patuh jaga jarak, tidak patuh himbauan-himbauan, kurang jaga imun, kurang jaga kesehatan, masih sering berkerumun baik dalam acara hajatan, keagamaan, maupun aktivitas-aktivitas ekonomi dan sebagainya.

Sehingga pandemi semakin menggila dan semakin sulit untuk ditangani dan dikendalikan penyebarannya. Kalau sudah begini, dampaknya pasti akan jauh lebih buruk dan multidimensi.

Teori konspirasi telah menyentuh satu sisi emosi seseorang yakni Trust atau Kepercayaan publik terhadap teori itu sudah melebihi kepercayaan publik terhadap informasi yang diberikan negara, otoritas medis dan para ahli.

Mereka bahkan lebih percaya kepada teman, keluarga, maupun orang-orang ahli spiritual soal Covid-19. Perlawanan terhadap pendemi Covid-19 jadi tidak terukur dan sistematis. Teori konspirasi telah mengacaukan narasi kelimuan dan sains dan menyebarkan disinformasi yang lebih berbahaya dari perlawanan terhadap Covid-19 berikut efek-efeknya itu sendiri.

Teori konspirasi hanya memperkuat rumor, informasi yang gak jelas, menabur kebingungan dan keraguan. Teori konspirasi telah menghilangkan ilmu, wawasan, pengetahuan, bahkan kebijaksanaan itu sendiri.

Bahkan teori konspirasi telah menyusahkan pemerintahan dibanyak negara dalam membangun kepercayaan dan berkomunikasi dengan rakyat karena penggunaan standar-standar dan pandangan-pandangan yang berbeda soal pandemi Covid-19. Teori konspirasi sebenarnya sangat dinikmati utamanya bagi mereka yang ingin menabur kekacauan dan keraguan.

M Khabib, redaktur daulat.co

Read Previous

Catat! Sembako BPNT Harus Mengakomodir Bahan Pangan Lokal

Read Next

Promosi, Raditya Jati Emban Amanah Baru Jadi Kepala Kapusdatin BNPB