24 September 2020, 06:37

Dalami Suap dan Gratifikasi Nurhadi, KPK Periksa Eks Pegawai Anak Usaha Lippo Group

dok KPK

dok KPK

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami dugaan penerimaan suap dan gratifikasi mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Kali ini, lembaga antikorupsi mendalaminya melalui mantan pegawai PT Artha Pratama Anugerah, Doddy Aryanto Supeno.

Sedianya, Doddy Aryanto Supeno hari ini Rabu (5/8/2020) diagendakan diperiksa sebagai saksi sekaligus untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Nurhadi. Doddy disinyalir mengetahui maupun terlibat dalam pemberian hadiah atau janji kepada Nurhadi.

“Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka NHD,” ucap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi awak media.

Selain Doddy, penyidik KPK juga mengegendakan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi untuk melengkapi be tersangka Nurhadi. Mereka yang dipanggil oleh lembaga antikorupsi yakni, seorang PNS/ pegawai MA bernama Kardi; Indra Hartanto; wiraswasta bernama Indra Hartanto; dan ibu rumah tangga bernama Irawati.

Doddy Aryanto Supeno sebelumnya pernah dihadirkan jaksa penuntut umum KPK bersaksi dalam persidangan terhadap mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (14/1/2019).

Doddy dalam dikonfirmasi seputar hubungannya dengan Nurhadi. Diungkap jaksa, Doddy pernah diminta Eddy Sindoro untuk mengirim sesuatu kepada Nurhadi.

Dalam berita acara pemeriksaan (BAP), Doddy pernah mengaku diminta mengantar sesuatu kepada Nurhadi yang saat itu masih menjabat Sekretaris MA. Dalam BAP, Doddy mengaku pernah berkomunikasi dengan mantan petinggi Lippo, Suhendra Atmadja. Komunikasi itu terkait sesuatu yang akan diberikan kepada Nurhadi.

“Maksud komunikasi saya (Doddy) dengan Suhendra Armadja, saya sampaikan pesan dari Pak Eddy Sindoro, kapan barang untuk Pak WU dicicil lagi? Pak WU adalah Nurhadi,” ucap jaksa Abdul Basir saat membacakan BAP Doddy.

“Barang berikut entertainment 6 anggota Brimob ajudan Nurhadi. Beberapa hari kemudian saya tanya apa sudah ada barang yang akan diberikan ke Nurhadi. Tapi belum ada,” tutur jaksa melanjutkan pembacaan BAP Doddy.

Diungkap jaksa, Doddy dan Eddy Sindoro seringkali berbicara tentang Nurhadi melalui pesan singkat di Blackberry Messenger (BBM). Doddy juga diduga sering berhubungan dengan Nurhadi.

Namun, Doddy dalam persidangan mengklaim tak dapat mengingat komunikasinya dengan Nurhadi. Doddy berdalih daya ingatnya melemah lantaran pernah mengalami stroke.

Eddy Sindoro sebelumnya didakwa memberikan suap sebesar Rp 150 juta dan 50.000 dollar Amerika Serikat kepada panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution. Uang tersebut diberikan agar Edy menunda proses pelaksanaan aanmaning terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (PT MTP).

Selain itu, pemberian uang juga sebagai pelicin agar Edy menerima pendaftaran peninjauan kembali (PK) PT Across Asia Limited (PT AAL) meskipun sudah melewati batas waktu yang ditentukan oleh undang-undang. Pengurusan perkara itu diduga melibatkan Nurhadi. PT AAL dan PT Artha Pratama Anugrah merupakan anak usaha Lippo Group.

Sementara itu, Nurhadi dan Rezky Herbiyono bersama Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HSO) sekira Desember 2019 ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di Mahkamah Agung (MA) pada 2011-2016.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar terkait dengan pengurusan sejumlah perkara di MA, sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Adapun penerimaan suap tersebut terkait dengan pengurusan perkara perdata PT MIT vs PT KBN (Persero) kurang lebih sebesar Rp 14 miliar, perkara perdata sengketa saham di PT MIT kurang lebih sebesar Rp 33,1 miliar, dan gratifikasi terkait dengan perkara di pengadilan kurang lebih Rp 12,9 miliar sehingga akumulasi yang diduga diterima kurang lebih sebesar Rp 46 miliar.

Setelah sebelumnya masuk daftar DPO, Nurhadi dan Rezky akhirnya berhasil diseret ke jeruji besi. Sementara tersangka Hiendra saat ini masih menjadi buronan.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Bupati Junaedi Kembali Ngantor Usai Sembuh Dari Covid-19, Sentil Netizen Sebagai ‘Maha Benar’

Read Next

Dubes: Dua WNI Terdampak Ledakan Bom di Lebanon