Boni: Justru Karena Independensi, Tak Semua Aksi 212 Harus Diliput Pers

Pengamat Politik yang juga Direktur Lembaga Pemilih Indonesia, Boni Hargens (tengah) berbincang dengan Pembina Tempat Pendidkan Al-Quran / Majelis Taklim Al Iqdham, Ustad Anwar (kanan) saat berkunjung ke Majelis Taklim Al Iqdham, Bukit Duri, Jakarta, Jumat (28/7). Kunjungan ini dalam rangka memberikan santunan kepada para anak yatim sekaligus sosialisasi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas (Perppu Ormas).

Daulat.co – Pengamat Politik Bni Hargens menilai kekecewaan Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto terhadap Pers Indonesia adalah sebuah kekeliruan. Sebab setiap media punya fatsun masing-masing yang tak bisa diintervensi.

“Ini yang mereka (tim Prabowo) keliru, tidak memahami arti kebebasan pers. Kebebasan itu bukan berarti mendikte pers. Pers punya fatsun, punya prinsip, punya core of conduct yang kita tidak bisa tabrak atau pengaruhi,” ujar Boni dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (5/12).

Sebelumnya, Prabowo marah dan menolak diwawancarai beberapa media usai acara peringatan hari disabilitas. Prabowo mengaku kecewa lantaran media-media mainstream tidak meliput acara Reuni 212, bahkan ada media yang menyebut aksi itu tidak dihadiri 11 juta orang sebagaimana anggapan Prabowo.

Menurut Boni, apapun keputusan editorial manajemen di internal pers adalah hak mereka, karena itulah pers disebut independensi. Siapa pun tak berhak mencaci maki pers kalau ternyata tidak meliput acara atau kegaitan yang dirancang.

“Tidak ada kewajiban bahwa TV harus meliput seluruh acara Reuni 212. Tidak ada kewajiban harus semua koran meliput dan menaruh fotonya di halaman satu. Itu sebuah kekerdilan berpikir yang sangat memalukan,” tegasnya.

Boni juga menilai sikap Prabowo yang bernada keras menunjukkan bahwa dia tidak mau menghargai pers. “Justru di situ benih-benih otoritarian kelihatan. Jangan-jangan kalau nanti jadi presiden kebebasan pers dibungkam,” tuntas Boni.

(M Sahlan)