8 August 2020, 13:18

Balai Wyata Guna Bandung Luruskan Informasi Pengusiran Penyandang Disabilitas

daulat.co – Kepala Balai Wyata Guna, Sudarsono mengatakan jika proses revitalisasi fungsional balai yang dipimpinnya saat ini merupakan program nasional untuk mengoptimalkan peran balai-balai rehabilitasi sosial milik pemerintah.

Tujuan dari proses revitalisasi fungsional itu adalah masyarakat atau penyandang disabilitas ke depannya diharapkan dapat diberdayakan dan berkiprah setelah mendapat pelayanan Rehabilitasi Sosial Lanjut di Balai Rehabilitasi Sosial.

Penegasan Sudarsono itu disampaikan sekaligus meluruskan polemik yang muncul di media sosial mengenai informasi pengusiran sejumlah mahasiswa penyandang disabilitas netra penerima manfaat Wyata Guna.

Disampaikan, selama ini ada kesan bahwa balai rehabilitasi sosial seperti penampungan bagi disabilitas. Padahal menurutnya fungsi balai lebih dari itu. Yakni diharapkan dapat mendorong kaum disabilitas berdaya sesuai dengan bidangnya.

“Kita ada program transformasi, perubahan status panti menjadi balai. Kita ingin balai rehabilitasi sosial ini berkontribusi secara progresif,” kata dia kepada wartawan, Selasa 15 Januari 2020.

Program transformasi itu agar disabilitas  dapat mengembangkan keberfungsian sosialnya dan kapabilitas sosialnya sehingga bisa berkiprah di masyarakat. Salah satu konsekuensi dari transformasi tersebut adalah adanya batas waktu bagi para penerima manfaat sesuai dengan yang ketentuan.

“Ini yang kita sebut dengan proses inklusi. Kita ingin, saudara-saudara kita diterima di masyarakat. Seperti yang lainnya,” ujar Sudarsono.

Ia menjelaskan, pemberlakuan ketentuan mengembalikan penerima manfaat kepada keluarga atau ke masyarakat, tidak dilakukan seketika. Tapi melalui proses-proses yang panjang. Selama di balai, mereka diberikan pelatihan dan layanan yang holistik, sistematis dan terstandar. Sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka mandiri.

Mengenai polemik yang terjadi di Wyata Guna, kata Sudarsono, sebetulnya sudah diproses secara bijaksana sejak tahun 2019. Pengelola balai bahkan telah memberikan toleransi kepada para penerima manfaat hingga bulan Juli. Dimana mereka seharusnya meninggalkan balai sejak Juni 2019.

Pengelola balai juga sudah secara persuasif meminta penerima manfaat untuk berinisiatif mematuhi ketentuan, sebab, banyak penyandang disabilitas Sensorik Netra lainnya yang antre untuk masuk balai dan mendapatkan pelayanan.

Selain itu, pada tanggal 12 Agustus 2019, Kementrian Sosial dan Pemprov Jawa Barat juga sudah rapat untuk mencari solusi bersama. Salah satu keputusannya Dinas Pendidikan Jabar berkomitmen membangun sarana pendidikan berkebutuhan khusus dengan konsep boarding school yang dilengkapi asrama.

Dinas Sosial Provinsi Jabar juga merencanakan pembangunan panti sosial yang melayani semua penyandang disabilitas termasuk sensorik netra. Pengembangan layanan terpadu nasional ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah meningkatkan pelayanan kepada penyandang disabilitas.

Pihaknya menyayangkan di tengah proses peralihan dan komunikasi dengan Pemprov tersebut mencuat isu yang justru kontraproduktif dengan langkah-langkah pemerintah.

“Kita duduk bersama, mencari solusi terbaik. Kita semua anak bangsa, tidak mungkinlah saling menegasi,” pungkas Sudarsono. (Sumitro)

Read Previous

Pansus Jiwasraya Bukan Cari Sensasi

Read Next

Kemenag: Hak Kekayaaan Intelektual PTKI Terus Meningkat