Bahlil Bingung Dengan Istilah Ekonomi Kebodohan

daulat.co – Direktur Penggalangan Pemilih Milenial Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin, Bahlil Lahadalia mengaku bingung dengan istilah ekonomi kebodohan yang dilontarkan tim capres cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini mengaku tidak mengerti apa maksud kata-kata ekonomi kebodohan. Sebab apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi saat ini adalah investasi pembangunan yang mengarah pada pemerataan. Juga menopang hilirisasi sektor industri.

“Memang betul neraca perdagangan kita saat ini defisit. Tapi penyakit ekonomi sejak dulu adalah masalah hilirisasi induatri, karena kalau mau maju tak mungkin industri dibangun hanya di satu kawasan saja. Makanya infrastruktur di daerah-daerah dibangun,” jelas mantan pengurus PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.

Bahlil melanjutkan, infrastruktur saat ini dibangun di kawasan yang belum tersentuh secara masif. Hasil pembangunan ini nantinya akan terasa karena sumber-sumber ekonomi produktif telah terkoneksi.

“Aku jadi bingung, kenapa ketika infrastruktur dibangun di daerah Maluku, Papua, Sumatera, Kalimantan, dan daerah-daerah perbatasan semua pada ribut. Sedangkan dari dulu Jawa dibangun kita gak pernah ribut tuh. Padahal kan sama-sama Indonesia,” jelasnya.

Sebagai pelaku usaha, lanjut Bahlil, utang itu juga tidak disalahkan selama dilakukan untuk pengembangan dan ekspansi. Apalagi hal itu masih dalam garus Undang-Undang yang berlaku.

“Kalau mau mengembangkan usaha atau ekpansi, utang itu biasa. Selama tidak melanggar UU tidak ada masalah dong,” tukas Bahlil.

Menurut Bahlil, mengatakan ekonomi kebodohan sama saja dengan melecehkan pendiri bangsa Indonesia yang telah lama berjuang membangun negeri ini.

“Bangsa ini merdeka tahun 1945 dan sekarang yang terjadi adalah bagian dari warisan pendiri bangsa kita juga. Dan setiap pemerintahan punya prestasi dan kekurangan. Jadi kalau dibilang kebodohan, itu melecehkan pendiri bangsa. Sebab bangsa ini tak mungkin dibangun hanya 4 tahun,” tuntas Bahlil.

(M Sahlan)