Anak Muda Saat Reformasi dan 20 Tahun Setelahnya

Anak Muda Saat Reformasi
Anak Muda Saat Reformasi

daulat.co – Dua dekade setelah peristiwa reformasi, tahun 2018 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali apa yang sudah dan belum dicapai. Merespon kritis hal tersebut, Komite Bersama 20 Tahun Reformasi yang terdiri dari Youth Proactive, INFID, Amnesty International Indonesia, Pamflet Generasi, LBH Jakarta, GEOTIMES, dan KBR, mengadakan Diskusi Ngobrol Pintar (NGOPI).

Dengan tema ‘Anak Muda Saat Reformasi dan 20 Tahun Setelahnya’, kegiatan yang akan digelar Jumat, 18 Mei 2018, di YLBHI, dirangkai dengan acara seni dan sastra Poetry for Integrity ‘Gue dan Reformasi’.

Narasumber yang dihadirkan merupakan aktivis Generasi ’98 yang terlibat langsung dalam peristiwa reformasi seperti Budiman Sudjatmiko (PDIP), Mugiyanto (INFID), Usman Hamid (Amnesty International Indonesia), dan Ilhamsyah (KPBI).

Mantan aktivis ’98 ini akan berbagi cerita, pengalaman dan pengharapannya terhadap reformasi yang telah berjalan selama dua dekade. Berikut tokoh-tokoh muda dari generasi saat ini, maupun yang terlibat dalam gerakan kepemudaan, seperti Tsamara Amany (PSI), Cania Citta Irlanie (GEOTIMES), Lalola Ester (ICW), dan Nining Elitos (Konfederasi KASBI).

Acara ini juga mencoba menggambarkan peristiwa reformasi melalui foto-foto para jurnalis
Indonesia yang telah dikompilasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pesan-pesan reformasi juga akan ditampilkan melalui seni dan sastra.

Inayah Wahid, aktris sekaligus putrid Alm Gus Dur, akan menampilkan musikalisasi puisi terkait reformasi bersama dengan Fajar Merah yang merupakan putra Alm Wiji Thukul di dalam rangkaian acara Poetry for Integrity.

Selain sebagai sebuah peringatan dan evaluasi akan dua dekade reformasi, acara ini sangat penting bagi anak muda, sebagai calon pemimpin di masa depan untuk dapat memahami reformasi secara substansial, tidak hanya sebagai sebuah kronologi.

“Momen ‘98 layaknya ’65, menghadirkan kisah lengkap dengan beberapa nama pelaku yang bisa kita apresiasi kontribusinya maupun kita pertanyakan keberpihakannya saat merapat dengan kekuasaan,” terang Koordinator Nasional Youth Proactive, Ahmad Sajali.

Disampaikan, reformasi seperti momen lahirnya Orba, diawal menjanjikan tapi kita paham arahnya ke mana. Kegagalan kali kedua cukup jadi bahan pelajaran bagi anak muda hari ini untuk mengawal proses perubahan sampai tuntas.”

Melalui dialog interaktif dengan para narasumber, acara ini juga turut membahas paradoks dari
reformasi seperti radikalisme dan intoleransi yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

Sugeng Bahagijo selaku Direktur Eksekutif INFID mengatakan bahwa tujuan Reformasi 1998 tidak lain adalah memulihkan kebebasan dan martabat warga sesuai jiwa dan semangat Pancasila dan UUD 45. Reformasi bertujuan agar semua warga memiliki kesempatan setara untuk berkarya, berkarir dan menjadi pemimpin, terlepas dari suku, agama dan golongan sosial.

“Sayangnya, hari ini ruang kebebasan yang ada telah dibajak dan diselewengkan oleh kelompok kelompok radikal dan intoleran,” ucapnya.

Melalui acara ini, diharapkan ingatan akan peristiwa reformasi terus terawat dan menjadi bahan belajar. Di samping itu, anak muda dapat memiliki pengetahuan lebih dalam tentang reformasi dan menjadi pemimpin di masa depan yang peduli dengan perwujudan HAM dan demokrasi.

Merupakan hal yang penting bagi semua pihak untuk selalu mengingat sejarah negeri sendiri, termasuk hutang atas perwujudan cita-cita reformasi.