Adu Strategi Dalam Enam Bulan ke Depan: Jokowi Yang Menang Atau Prabowo Yang Melenggang?

Bakal calon Presiden Joko Widodo (kanan) bersama dengan Prabowo Subianto (kiri) mengangkat nomor urut pasangan pada pengundian yang secara resmi disahkan KPU (Foto: Dedy Istanto/daulat.co)
Bakal calon Presiden Joko Widodo (kanan) bersama dengan Prabowo Subianto (kiri) mengangkat nomor urut pasangan pada pengundian yang secara resmi disahkan KPU (Foto: Dedy Istanto/daulat.co)

PEROLEHAN suara Joko Widodo (Jokowi) tinggi. Jauh mengungguli Prabowo Subianto. Itu jika Pilpres digelar September 2018. Namun dalam 6-7 bulan ke depan, perolehan suara keduanya bisa berubah. Tergantung situasi dan kondisinya. Baik dari sisi politik, ekonomi, hukum dan keamanan.

Demikian Survei Saiful Mujani Research & Consuling (SMRC). Dipaparkan di Jakarta, Minggu 7 Oktober 2018. Survei dilakukan tanggal 7 hingga 14 September 2018. Respondennya 1.220 orang. Respondennya telah berusia 17 tahun dan telah mempunyai hak pilih pada Pemilihan Presiden 2019.

Responden dipilih secara random. Multistage random sampling tepatnya. Dari jumlah itu, responden yang dapat diwawancarai sebesar 1.074 atau 88 persen. Jumlah inilah yang kemudian dianalisis SMRC.

Responden terpilih diwawancarai melalui tatap muka. Responden komplit dari 34 propinsi. Margin of error rata-rata sebesar plus minus 3,05 persen pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Hasilnya, untuk simulasi dua pasangan, responden memilih pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin sebesar 60,4 persen. Sementara untuk Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sebesar 29,8 persen. Sisanya, sebesar 9,8 persen, tidak menjawab. Tingginya suara Jokowi-Ma’ruf ditunjang elektabilitas Jokowi yang mencapai 60,2 persen. Adapun elektabilitas Prabowo 28,7 persen.

Salah satu catatan penting dari survei SMRC sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan, cawapres Jokowi maupun Prabowo tidak membawa pengaruh. Dalam bahasa SMRC, baik Ma’ruf Amin maupun Sandiaga Uno, tidak punya efek berarti terhadap pasangan.

SMRC mencatat, faktor-faktor yang dapat mengubah tren elektabilitas calon presiden. Yakni penilaian pemilih atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum dan keamanan. Sejauh ini, penilaian atas faktor-faktor tersebut lebih positif. Bahkan dibanding pada masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat akan menghadapi pemilihan presiden 2009.

Penting diingat pula, dari pengalaman tiga kali penyelenggaraan pilpres sebelumnya, calon yang trennya unggul terus akan sulit dikalahkan pada hari H. Nah, tren elektabilitas Jokowi sebagai petahana jelang 2019 lebih baik dari tren elektabilitas SBY jelang 2009. SBY menang dan peluang Jokowi saat ini sama, menang.

Pertanyaan besarnya, apakah dalam 6-7 bulan ke depan penilaian tersebut akan stabil? Atau bahkan makin positif? Atau justru sebaliknya. Hal inilah yang ditekankan SMRC akan mengubah tren tersebut. Apakah kenaikan harga dollar, subsidi BBM, yang menggerus anggaran tidak mengubah masyarakat atas kondisi ekonomi nasional?

SMRC memberikan penekanan menarik, “Bila pemerintah salah dalam mengelola masalah ini, tren positif dukungan pada Jokowi sekarang ini bisa berbalik arah”. Dan, SBY telah memberikan contoh yang benderang. Jelang 2009 bisa mengatasi permasalahan yang ada dan melenggang menang di Pilpres 2009.

(Sumitro)