26 May 2020, 07:38

Achsanul Qasasi Ingatkan Eks Asisten Menpora Tidak Asal Lempar Tuduhan Tanpa Dasar

Achsanul Qasasi

Achsanul Qasasi

daulat.co – Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi mengklarifikasi pernyataan mantan asisten Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum, Pengadilan Tipikor, Jumat (15/5), yang menyebut keterlibatan Achsanul dalam kasus suap dana hibah KONI.

Dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Sabtu 16 Mei 2020, Achsanul mengatakan jika dirinya belum menjabat sebagai Anggota BPK RI saat kasus dana hibah KONI.

“Kasus ini adalah, kasus dana Hibah KONI yang diperiksa oleh BPK tahun 2016. Pemeriksaan Hibah KONI belum periode saya. Surat tugas pemeriksaan bukan dari saya. Saya memeriksa Kemenpora pada tahun 2018 untuk pemeriksaan laporan keuangan,” kata dia.

Ia juga mengaku tidak pernah mengenal dan berkomunikasi dengan Miftahul Ulum. Untuk mengkonfirmasi pernyataan Ulum, ia menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung untuk meluruskan tuduhan Ulum.

Di sisi lain, ia menyayangkan pernyataan Ulum. Sebab menurutnya alih-alih menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya, Ulum justru melempar tuduhan yang disebutnya tidak berdasarkan fakta.

“Jangan melempar tuduhan tanpa dasar dan fakta yang sebenarnya. Dan Saya mendukung proses hukum kasus KONI ini berjalan lancar dan fair, tanpa ada fitnah pada pihak lain, termasuk saya sendiri,” kata Achsanul.

Diketahui, nama Achsanul Qosasi dan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman disebut dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap dana hibah dari pemerintah terhadap KONI melalui Kemenpora.

Kata Ulum, Achsanul Qasasi menerima Rp3 miliar untuk mengamankan temuan BPK di Kemenpora. Sementara Adi Rp7 miliar untuk pengamanan perkara di Kejagung.

Awalnya, Penasihat Hukum Imam Nahrawi menanyakan maksud pertemuan Ulum di Arcadia, Jakarta Selatan yang dihadiri Ending Fuad Hamidy (Sekjen KONI) dan Johnny E Awuy (Bendahara KONI). Pertemuan membahas permasalahan proposal bernilai puluhan miliar.

Kasus dugaan korupsi dana bantuan pemerintah melalui Kemenpora untuk KONI sekitar Rp26 miliar sendiri diketahui merupakan salah satu kasus di Kemenpora yang ditangani Pidsus Kejaksaan Agung.

Kasus bermula dari proposal KONI Pusat tertanggal 24 November 2017 kepada Menpora Imam Nahrawi yang berisi permohonan bantuan senilai Rp26.679.540.000,00.

Menpora Imam Nahrawi pada 8 Desember 2017 memerintahkan Deputi 4  untuk segera menindaklanjuti proposal dari KONI Pusat tersebut. Ini mengingat dalam RKA K/L Kemenpora Tahun 2017 belum ada peruntukan anggaran untuk merespon proposal KONI tersebut.

Biro Perencanaan Kemenpora kemudian melakukan revisi berdasarkan usulan Deputi 4 bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Kemenpora pada Desember 2017 selanjutnya menggulirkan dana bantuan hingga Rp25 miliar yang dicairkan ke rekening KONI.

Penggunaannya diperuntukan dalam rangka pembiayaan program pendampingan, pengawasan, dan monitoring prestasi atlet jelang Asian Games 2018. Namun diduga terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya.

Diduga sejumlah oknum dari Kemenpora dan KONI Pusat membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran fiktif. Modusnya diduga melalui pengadaan barang dan jasa tanpa prosedur lelang.

Dalam perkara ini, Imam Nahrawi didakwa menerima suap sebesar Rp11,5 miliar. Suap itu berasal dari mantan Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan Jhonny E Awuy selaku Bendahara Umum KONI.

Dalam dakwaan jaksa, uang yang diterima Imam Nahrawi dimaksudkan untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah KONI.

Jaksa mengungkapkan setidaknya ada dua proposal kegiatan KONI yang menjadi sumber suap untuk Imam Nahrawi. Pertama, terkait proposal bantuan dana hibah Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018.

Kedua, proposal dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun Kegiatan 2018. Sejumlah uang itu, diterima Imam Nahrawi bersama asisten pribadinya, Miftahul Ulum pada 2018.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Libatkan UMKM, Baznas Pemalang Serahkan Bantuan 25 Ribu Masker

Read Next

Peduli Pendidikan Keagamaan Terdampak Covid-19, Baznas Pemalang Salurkan Bansos Rp 800 Juta