daulat.co – Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Fahri Hamzah menilai bahwa demokrasi Indonesia memiliki banyak kemiripan dengan sistem demokrasi di Amerika Serikat, salah satunya dalam hal sistem pemerintahan yang menganut sistem presidensial. Bedanya hanya terletak pada sistem negara dan banyaknya partai politik di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Fahri saat mendampingi Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menerima kunjungan Delegasi Kongres Amerika Serikat House Democracy Partnership (HDP) yang dipimpin oleh Anggota Kongres Amerika Serikat David Price, di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (31/7).

“Memang demokrasi Indonesia lebih banyak kemiripannya dengan sistem demokrasi Amerika. Meski mereka negara federal dan kita negara kesatuan, tetapi sistemnya kan presidensial, kita ini partainya lebih banyak sementara mereka kan partainya hanya dua. Sehingga kita bisa bilang bahwa mengelola politik di Indonesia ini kadang-kadang bisa dibilang lebih rumit daripada mengelola politik di Amerika,” ungkap Fahri.

Tidak hanya kesamaan sistem dalam pengelolaan negara, Fahri menambahkan terdapat pula kesamaan Indonesia-AS dalam mengelola parlemen, yaitu sistem dua kamar atau yang lebih dikenal dengan sistem bikameral. “Bagaimana mereka mengelola politik sehari-hari itu rada mirip, tetapi mereka kongresnya lebih kuat daripada kita. Mereka memang bikameral, kita ini baru satu kamar yang kuat, tapi kekuatan mereka betul-betul kuat”, lanjutnya.

Sementara terkait hubungan bilateral antara parlemen Indonesia-AS, dinilai Fahri perlu dilakukan guna menjawab tantangan global. “Kita (Indonesia) bisa bicara isu-isu demokrasi karena menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, juga kita bisa bicara isu-isu terkait Islam karena kita negara dengan komunitas Muslim terbesar sedunia. Mereka perlu partner, kita semua menyampaikan bahwa Indonesia-Amerika dapat berpartnerdalam menjawab tantangan global,” tambah Fahri.

Hingga saat ini, kerja sama antar parlemen Indonesia-AS sudah berjalan dengan rutin. Bahkan menurut politisi dapil Nusa Tenggara Barat itu, tingkat kerja samanya sudah turun hingga ke tinggkat staf peneliti di Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI. “Mereka rutin mengadakan asistensi, ada training di sini dan di sana. Ini dalam rangka proyek Modernisasi Parlemen yang kita rancang. HDP ini juga termasuk lembaga yang membantu Modernisasi Parlemen diseluruh dunia,” pungkas Fahri.