BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil menginstruksikan kepada kepala daerah kota dan kabupaten di Jawa Barat untuk segera mengantisipasi masalah kekeringan.

“Pertama, memastikan suplai air bersih yang dikonsumsi penduduk tak terhalangi. Dulu saya lakukan saat wali kota meminta PDAM menyediakan truk tangki air untuk masyarakat, saya kira itu harus dilakukan juga untuk air bersih yang sifatnya untuk dikonsumsi,” ujar Ridwan Kamil di Bandung, Rabu (7/6).

Sementara itu terkait dengan irigasi, dilanjutkan Ridwan, pihaknya telah meminta OPD terkait menyesuaikan pengaturan debit air. Hal itu dilakukan supaya yang dulu airnya deras, bisa diatur lebih efisien sehingga persawahan bisa mendapatkan air meski tak semaksimal dulu.

“Jangan sampai habis sama sekali. Koordinasi dengan PJT (Perum Jasa Tirta) yang mengelola waduk juga sedang kita tingkatkan,” ucap Ridwan.

Bahkan, diakui Ridwan, dia akan mengusulkan ke pemerintah pusat untuk melakukan rekayasa iklim jika sudah ekstrem. “Saya usulkan ke pemerintah pusat, jika sudah ekstrem apakah ada rekayasa iklim yang dulu juga dilakukan untuk meningkatkan jumlah intensitas air hujan,” tuturnya.

Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat mencatat, 12.048 hektare lahan telah mengalami dampak musim kemarau dan kerusakan irigasi dengan klasifikasi rusak ringan, sedang, besar hingga puso berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikura Jabar per 28 Juni 2019.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat Hendi Jatnika mengatakan, dari 573.842 hektare lahan pertanian di Jawa Barat sebanyak 52.983 hektare terancam kekeringan pada musim kemarau ini. Sedangkan sebanyak 82 hektare lahan sudah mengalami puso.

Adapun sebanyak 82 hektare telah mengalami gagal panen tersebut terjadi di Sukabumi, Cianjur dan Cirebon. Dari 1.108 hektare lahan pertanian di Sukabumi mengalami puso 38 hektare, di Cianjur ada 757 hektare (lahan) dan puso 17 hektare, sedangkan di Cirebon dari luas 871 hektare lahan terdapat 22 hektare mengalami puso.

Sementara Kabupaten Bekasi tercatat sebagai areal terluas dampak kemarau dengan 1.570 hektare, disusul Indramayu 1.456 hektare, dan Majalengka 1.266 hektare.

Menurut catatan Dinas Pertanian dan Hortikuktura, secara umum, daerah yang mengalami kekeringan adalah areal sawah dengan kondisi irigasi yang rusak, akibatnya aliran air tidak mencapai sawah yang letaknya jauh di desa-desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.